👯 Lebih Baik Menyalakan Lilin Daripada Mengutuk Kegelapan

Adayang menyenangkan, membahagiakan, dan sarat keberhasilan. Ada juga yang menyedihkan, memilukan, dan sarat kegagalan. Pepatah mengatakan, daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin. Kita punya dua pilihan; menghabiskan hidup dalam kegelapan atau menyalakan lilin dan keluar darinya untuk menyongsong kehidupan baru yang lebih terang. Lebihbaik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan. Orang yang hidupnya indah karena mereka dekat dengan keindahan. Cara untuk mendapatkan teman adalah dengan menjadi seorang teman. Lakukan yang terbaik yang dapat dilakukan dan terimalah yang lainnya sebagaimana adanya. Lebihbaik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. 4. Yang bertanya seperti orang bodoh selama lima menit lebih baik daripada yang tidak bertanya, karena ia tetap bodoh selamanya. 5. Jika Anda ingin tak seorang pun mengetahuinya, jangan melakukannya. 6. Berikan seseorang seekor ikan, dan anda memberinya makan untuk sehari. Tentang Mampu menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Perusahaan Dagang dan Perusahaan Jasa. Mampu menghitung Pajak, membuat Laporan Laba Rugi, dan. Menguasai Ms. Office dengan sangat baik. Pernah mengikuti dan menyelesaikan Pendidikan Pajak Terapan Brevet AB Oktober 2019 s/d Februari. 2020 Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Artha Prima. MenciptaKambing Hitam Kegelapan Pandemi. Orang lebih senang mengutuk kegelapan daripada menyalakan lilin walaupun kecil untuk agar kegelapan terterangi. Sekarang ditambah lagi orang lebih senang menciptakan kambing hitam yang dianggap menyebabkan kegelapan bagai malam hari. Lalu memaki dan menyuruh kambing hitam itu bertanggung jawab dan pergi. Aramtemaram (juga: aram) merupakan pencahayaan atmosfera Bumi yang lebih rendah apabila Matahari sendiri tidak dapat dilihat kerana ia berada di bawah ufuk.Aram-temaram dihasilkan oleh cahaya matahari berserak di atas atmosfera, menerangi atmosfera rendah sehingga permukaan Bumi tidak benar-benar terang dan tidak juga gelap sepenuhnya. Perkataan aram-temaram juga digunakan untuk menunjukkan Lebih Baik Menyalakan Lilin Daripada Mengutuk Kegelapan", begitu dalih pembela kenaikan bayaran Listrik yg mencekik rakyat. Kalau gelapnya malam ya kita tidak boleh mengutuk. Sebab itu sudah Sunnatullah yg tak akan bisa dirubah manusia. Padahal dollar saat itu Rp 10.000. Sekarang Rp 13.500. Jadi kalau standard sekarang, paling Rp 675/kwh Danhasil Rapid test sementara sudah 367 yg reaktif. Biasanya yang reaktif ini lebih dari 50 persennya jadi positif. Artinya kita harus siap-siap di beberapa hari ke depan terjadi lonjakan jumlah yg positif. "Tetapi tentu lebih baik menyalakan Lilin daripada kita mengutuk kegelapan". LEBIH baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan". Pepatah Tiongkok kuno itu terasa amat relevan ketika kita melihat jerih-payah upaya memperbaiki kinerja perusahaanperusahaan milik negara. Sejarah panjang BUMN mencatat, perjalanan perusahaanperusahaan milik negara memang tak selalu mulus. Kinerjanya dinilai masih tak seperti yang diharapkan. KataKata Bijak tentang Lilin. 1. "Lihatlah bagaimana satu lilin dapat melawan dan menentukan kegelapan." - Anne Frank. 2. "Lilin terbaik adalah pemahaman." - Pepatah Wales. 3. "Saya percaya bahwa lebih baik menyalakan satu lilin daripada menjanjikan sejuta bola lampu." Lebihbaik menyalakan lilin drpada mengutuk kegelapan :) Masalah, problem, halangan, rintangan, dan apapun namanya itu, dalam hidup ini pasti akan menghampiri kita. Yang menyedihkan adalah banyak orang yang menyikapi masalh yang datang itu dengan penuh dramatisir yang tidak seharusnya. Lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan". Ungkapan sangatlah tepat untuk dicermati dalam kond JmGkZ. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Lebih baik menyalakan lilin betapa kecil pun cahayanya dari pada mengutuki kegelapan. Itu petuah klasik untuk membangkitkan semangat hidup, agar senantiasa tegar betapa pun beratnya tantangan yang kita ketika yang dipermasalahkan adalah pemadaman listrik yang berkepanjangan di Sumut, petuah lama itu bisa tak laku bagi orang yang merasa teraniaya saat lampu padam mendadak saat sedang asyik nonton tv, kutak-katik komputer, atau saat baru saja menanak nasi di magic-com. Lampu listrik padam bagi remaja pacaran mungkin menyenangkan, menambah indahnya suasana romantisme. Tapi, tentu tidak bagi pelanggan yang menjadikan listrik bagian vital dari geliat kehidupan berbisnis atau kemerfekaan menikmati hidup terang listrik padam- bisa pagi, siang, atau tengah malam- warga menyalakan lampu alternatif kalau ada, atau menyalakan lilin. Tapi, bisa dimaklumi saat seseorang menyalakan lilin karena lampu padam jelang tengah malam, mulut pun komat kamit melontarkan sumpah serapah atau caci maki mengutuki kegelapan. Sudah 68 usia republik ini, barulah di era reformasi modern ini pemadaman listrik makin menggila, keluh seorang warga Kota Tarutung, seraya mempertanyakan pernyataan petinggi PLN bahwa pemadaman listrik di Sumut hanya sampai Maret 2014. Nyatanya awal April ini pemadaman masih ada meski frekuensi pemadaman tak segencar protes? Mau demon? Mau caci maki? Itu mah percuma. Soalnya PLN boleh tak merasa bersalah apa lagi berdosa, karena krisis listrik memang benar bukan dikarang-karang. Tapi bahwa PLN lamban bikin terobosan solution, mungkin bisa juga. Kan tak logis orang PLN senang dimaki, tak mungkin orang PLN tega mendengar orang mengutuk kegelapan seraya menyalakan krisis listrik entah hingga kapan berujung, sudah bagaimana kabarnya kinerja Sarulla Operation Lestari SOL yang tengah mengelola pembangkit listrik tenaga panas bumi di Kecamatan Pahae Jae Kabupaten Tapanuli Utara. Proyek berskala raksasa itu lama terkatung-katung sejak terbitnya Keppres No 5 Tahun 1998 akibat krisis moneter. Baru dua tahun terakhir mulai direalisasi lagi, walau operasional terkesan bumi Sarulla salah satu potensi faktual yang dapat memadamkan panas nya suhu kemarahan rakyat yang merasa tekanan darahnya sering tak beraturan gara-gara pemadaman listrik tak beraturan belakangan ini. Lihat Kebijakan Selengkapnya – “It is better to light a candle than curse the darkness” Peribahasa tersebut secara harfiah memiliki arti “Lebih baik menyalakan sebuah lilin daripada mengutuk kegelapan”. Peribahasa ini telah terkenal sekali di seluruh dunia. Presiden Amerika John F Kennedy pun pernah menggunakan dalam pidatonya. Di Indonesia, peribahasa ini pun kembali terkenal semenjak Anies Baswedan menggunakannya sebagai tagline dalam program Indonesia Mengajar. Sebuah program yang mengirimkan sarjana-sarjana pintar ke pelosok Indonesia untuk membantu peningkatan mutu pendidikan di negara ini. Dalam konteks Pemerintahan Daerah, penulis begitu tergelitik ketika salah satu Pemimpin Daerah di negeri ini menyampaikan hal tersebut sebagai motto dalam menjalankan Pemerintahannya. Dalam sebuah pertemuan dengan masyarakat, KH DR M. Idris Abdul Somad Wakil Walikota Depok 2011-2016 dan Walikota Depok terpilih 2016-2021 begitu gamblang mengulas tentang peribahasa tersebut hingga menginspirasi masyarakat yang hadir termasuk penulis. Rupanya materi peribahasa ini menjadi bahan diskusi inspiratif dan solutif bagi kita semua warga yang kini tengah menantikan kiprah kepemimpinan para pemimpin daerah yang akan dilantik di daerahnya masing-masing. Pilkada serentak, kini telah kita lalui. Beragam fenomena, dinamika, paradigma dan spektrum politik dapat menjadi pembelajaran berharga bagi kita semua. Salah satu paradigma yang masih sering terjadi adalah budaya dan kesenangan kita yang selalu mengeluh, mencaci, merasa tidak puas, menyalahkan bahkan ?mengutuk? kebijakan pemimpin tanpa memberikan solusi dan tidak menyelesaikan masalah tersebut. Dalam hidup bermasyarakat, kita begitu mudah menyalahkan orang lain atas kekurangan yang ada di hidup ini. Tapi seringkali kita lupa bercermin kalau kita belum berbuat sesuatu untuk hidup ini, atau ketika ada masalah kita selalu menyalahkan faktor eksternal. Tanpa kita sadari apa yang kita lakukan tersebut takkan bisa mengubah situasi. Kita cuma ibarat komentator sepakbola yang sebenarnya juga tak bisa bermain bola dengan baik. Tidak sedikit dari kita yang tersibukkan dengan mengamati pekerjaan orang lain, bukan untuk mengambil ibroh/pelajaran atau membantu menyelesaikan pekerjaannya tetapi justru untuk menunggu kapan orang itu terpeleset dalam kekeliruan atau melakukan kesalahan sehingga ia bisa segera mengkritik dengan kritikan yang tidak jarang melebihi batas yang proporsional mengecam pekerjaan orang tanpa memberinya solusi juga tidak jarang hanya akan merenggangkan persaudaraan. Padahal agama telah mengajarkan kita bahwa Beruntunglah orang yang disibukkan dengan mengintrospeksi aib dirinya sehingga tidak sempat mencari-cari aib saudaranya. Mengutuk, meratapi, mengeluh, menyalahkan atau apapun istilah lainnya dengan konotasi yang sama memang mudah dilakukan. Tapi persoalannya kini, apakah setelah kita mengutuk sesuatu maka keadaan itu langsung berubah? Dari pengalaman hidup kita, mengeluh tidak mendatangkan apa-apa kecuali ketenangan batin yang semu. Ibaratnya ketika menutup mata, semua bayangan dunia menjadi tak terlihat termasuk dengan problema yang kita alami, namun dunia akan tetap sama entah ketika menutup atau membuka mata. Jika di suatu malam listrik di rumah kita mati apa yang akan kita lakukan? Apa kita akan menggerutu dan mengutuk PLN yang melakukan pemadaman? Jika begitu, apa kondisi berubah? Tentu tidak, yang ada kita capek sendiri. Tentu yang harus kita lakukan adalah menyalakan lilin. Walaupun tak seterang lampu, tapi setidaknya dengan menyalakan lilin kita masih bisa melihat seisi ruangan walau redup. Ibaratnya ketika kita berada dalam kegelapan, sampai berbusa mulut kita mengumpat dan mengutuk, tak akan ada perubahan sampai kita menyalakan sebatang lilin atau alat penerangan lainnya. Berbuat lebih baik daripada sekedar berkata-kata, walaupun dengan kata-kata itu hati dan pikiran cenderung menjadi tenang karena emosi sedikit tersalurkan tetapi jauh lebih baik dan berbahagia kalau masalah itu bisa kita selesaikan sendiri. Walaupun sebatang lilin kecil yang menyala, itu sudah cukup membuat perbedaan dibandingkan kita berdiam diri dalam kegelapan. Menyalakan lilin mungkin contoh yang sederhana, simple dan tak terlalu merubah banyak. Tapi setidaknya berkontribusi memberikan cahaya di tengah kegelapan. Dalam hidup pun rasanya kita harus memberikan cahaya walau bentuknya sederhana, entah lewat tenaga, materi, atau ide. Mari kita sambut kiprah para pemimpin daerah dengan menjadikan diri kita masing-masing sebagai lilin-lilin yang mampu menerangi bagian dari ruang kerja dan kehidupan yang sesuai kapasitas dan sekuat kemampuan yang kita miliki. Insya Allah dari satu lilin, seratus atau seribu lilin tersebut bisa menerangi seluruh ruang hidup kita. Mengutuk kegelapan tidak akan menjadikan gelap sirna tetapi justru menambah pengapnya suasana hati. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa salah satu kunci kebahagian hati di dunia adalah dengan selalu pandai bersyukur. Sikap syukur yang paling sederhana, mudah, ringan tapi agak sulit dilakukan adalah ?tidak pernah mengeluh dalam keadaan apapun di semua lini kehidupan kita?. Muhammad Fahmi, ST, MSi Pemerhati masalah Sumber Daya Manusia dan masalah Tematik Bangsa Kandidat Doktor Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia Universitas Negeri Jakarta UNJ Master of Ceremony MC, Trainer Publik Speaking/Kehumasan Salam Merah Mempesona Menggelitik Hati fahmizidane2003 WA 08158228009 Lanjut ke konten Lebih Baik Menyalakan Lilin Daripada Mengutuk Kegelapan Itu adalah kalimat terindah yang pernah kudengar dalam hidupku. Sebuah kalimat yang kudengar terucap dalam do’a bapakku suatu ketika saat aku tengah pulang beberapa waktu lalu. Kalimat itu juga yang sanggup memberikan penghiburan bagiku setahun lalusampai saat ini setiap kali menghadapi beratnya ujian kehidupan… Kalimat itu juga yang membuatku tetap bertahan dan mampu melanjutkan hidupku yang sempat terasa tak berarti, membuatku menerima dan memaafkan diri sendiri dan bukan terjebak dalam sesal tiada akhir dan tiada guna… Mengutuk kegelapan menyalahkan diri sendiri, orang lain dan keadaan memang amat sangat mudah terlebih saat mengalami sebuah kesulitan, penderitaan, kesedihan, tapi apakah itu membawa manfaat selain bertambahnya beban yang mesti dipanggul? Bukankah akan jauh lebih berguna serta bermanfaat jika mau sedikit berusaha menemukan sebatang lilin untuk dinyalakan? Mungkin tak akan mudah, tapi dari sebaris kalimat dalam do’a bapak yang terucap dengan tulus itu, meyakinkan saya bahwa selalu tersedia sebatang lilin yang bisa dinyalakan setiap saat manakala kegelapan menyaputi jiwa… *sebuah perenungan sederhana mengenang kepergian Steven “Mas Bembem” Hasell setahun yang lalu* Navigasi pos

lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan